iLounge

1.500 Personel Tembaki 100 Petani Sukamulya, Mahasiswa Pertanian Kemana?

ANAKGUNDAR.COM 2016

ANAKGUNDAR.com, Depok – Sekitar seratusan petani di Desa Sukamulya, Kabupaten Majalengka, ditembak senapan berpeluru gas air mata oleh 1.500 personel gabungan, Kamis (17/11/2016).[1] Dari kejadian bringas ini pun lalu muncul sebuah pertanyaan menarik, kemana mahasiswa pertanian?

https://www.youtube.com/watch?v=4v8IbjTu9ts

Ketika disetiap periode kepemimpinan kepala daerah selalu terjadi penyempitan lahan pertanian, dimanakah sikap-sikap kritis mahasiswa pertanian? Ketika kesejahteraan petani terasingkan, dimanakah bela-pati mahasiswa pertanian? Kita semua tentu mempertanyakan hal-hal ini kepada mahasiswa pertanian, sebab mereka adalah marhaen terpelajar yang secara ilmu mengerti tentang selik-melik dunia pertanian, mulai dari teknologi pembibitan hingga konflik yang menghancurkan kelas petani.[2]

Ketika memperbincangkan mahasiswa pertanian, sudah pasti semua mata kita tertuju kepada kampus pertanian yang terbesar se-Asia Tenggara dan terletak di Kota Bogor. Kendati di Indonesia banyak kampus dengan Fakultas Pertanian di dalamnya, tetap saja Institut yang terletak di Dramaga, Bogor ini menjadi poros utama untuk kampus yang bergerak dibidang pertanian.

ANAKGUNDAR.COM 2016

Kiblat gerakan mahasiswa IPB saat ini, Jihad!

Ketika petani menangisi kehidupannya yang sulit karena harga pupuk yang mahal, mahasiswa pertanian harusnya hadir disamping mereka dengan menjawab serta memberikan solusi alternative agar dapat kembali menggarap lahan. Dan sama halnya dengan yang terjadi di Sukamulya, ketika para petani berhadapan dengan serdadu-serdadu galak yang bergerak atas arahan tuannya, seharusnya mahasiswa pertanian mogok belajar di kelas dan pergi membela kelas tani di lapangan pergerakan.

Sebenarnya, mahasiswa pertanian bukan tanpa gerakan bela-pati, di Sukabumi misalnya. Puluhan demonstran yang berasal dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi, dan beberapa perguruan tinggi disana menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Adipura, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Mereka menuntut pembebasan tiga petani Desa Sukamulya, Kabupaten Majalengka, yang ditahan karena menjadi tersangka dalam kasus bentrok warga dengan aparat gabungan terkait pengukuran lahan pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).[3]

ANAKGUNDAR.COM 2016

Aksi solidaritas dari aliansi mahasiswa di Sukabumi. Via: Syahdan Alamsyah, Detikcom

Melihat segelintir mahasiswa dari banyaknya mahasiswa pertanian, apalagi ada kampus pertanian terbesar di Indonesia itu sangat miris sekali. Gerakan kecil yang dilakukan mahasiswa Sukabumi seharusnya menjadi otokritik bagi mahasiswa yang sekarang duduk manis di PTN pertanian terbesar di Indonesia tersebut.

Tentu kita tak boleh lupa kata-kata Presiden Sukarno saat meletakkan batu pertama kali untuk membangun Fakultas Pertanian UI (sekarang IPB) di Bogor pada 27 April 1952.

Berseru Sukarno: “Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, malapetaka dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, — kenapa dari kalangan-kalanganmu begitu ketjil minat untuk studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan? Kenapa buat tahun 1951/1952 jang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa bagi Fakultet Pertanian hanja 120 orang, dan bagi Fakultet Kedokteran Chewan hanja …… 7 orang? Tidak, pemuda-pemudiku, studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan tidak kurang penting dari pada studie lain-lain. Tjamkan, sekali lagi tjamkan, — kalau kita tidak ‘aanpakken’ soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami malapetaka!” (1952: 24)

Lanjut, beliau menambahkan: “Politik bebas, prijsstop, keamanan, ‘masjarakat adil dan makmur’, ‘mens sana in corpore sano’, — semua itu mendjadi omong kosong belaka, selama kita kekurangan bahan makanan, selama tekort kita ini makin lama makin meningkat, selama kita tidak bekerdja keras, memeras keringat mati-matian menurut plan jang tepat dan radikal. Revolusi pembangunan harus kita adakan, tetapi paling segera diatas lapangan persediaan makanan rakjat. Dan kamu, pemuda dan pemudi diseluruh Indonesia, kita harus menjadi pelopor dan pahlawan! Dengan utjapan itulah, saja meletakkan batu-pertama dari Gedung Fakultet Pertanian ini. Sekian!” (Sukarno, “Soal Hidup dan Mati”, 1952: 26)

ANAKGUNDAR.COM 2016

Soekarno, 27 April 1952. Via: Sondha’s Notes

Hal yang paling fundamental untuk mencapai kedaulatan pangan adalah dengan memuliakan kehidupan dunia tani, memuliakan kaum marhaen. Berdasarkan hal itu, presiden pertama kita menempatkan kelas tani ini sebagai soko-guru revolusi. Menurut Bung Karno, untuk mengejawantahkan prinsip ini, perlu tindakan-tindakan objektif, perlu tenaga-tenaga terpelajar yang bertarung di lapangan pertanian dengan segala pengetahuan yang dimilikinya untuk memuliakan dunia tani. Dan berawal dari sinilah latarbelakang kenapa harus ada mahasiswa pertanian di Indonesia.

Jika mahasiswa pertanian yang saat ini enggan untuk membela dan memuliakan nasib petani, itu sama saja dengan mengkhianati idealisme Sukarno si penemu ajaran ideologi tani (marhaenisme) saat meresmikan pembukaan sekolah tani (IPB). Untuk itu, mari sejenak kita berpikir kembali tentang apa kegunaan dari predikat yang kita sandang agar tak menjadi gadungan cilaka dalam kelas tani yang menjadi “soko-guru” (pembangunan) revolusi!

Aku percaya, mahasiswa pertanian yang berada di IPB ataupun kampus lain merasa terganggu dengan adanya konflik yang tak ujung usai menghantui para pemilik lahan pertanian di Indonesia, hanya saja lembaga organisasi kemahasiswaan mereka memiliki agenda lain, misalnya seperti lebih tertarik pada masalah politik identitas dan politik elektoral Ibu Kota.

ANAKGUNDAR.COM 2016

Bertani Atau Mati! Via: Viva.co.id

Referensi:

[1] Reza Gunadha, “1.500 Polisi Tembaki 100 Petani Pakai Gas Air Mata di Majalengka”, 17 November 2016, diakses pada 25 November 2016, http://jateng.tribunnews.com/2016/11/17/1500-polisi-tembaki-100-petani-pakai-gas-air-mata-di-majalengka

[2] Muhidin M. Dahlan, “Petani Mulai Banyak Digusur, Mahasiswa Pertanian Ngapain?”, 23 November 2016, diakses pada 25 November 2016, https://tirto.id/petani-mulai-banyak-digusur-mahasiswa-pertanian-ngapain-b5xA

[3] Syahdan Alamsyah, “Puluhan Mahasiswa di Sukabumi Minta Tiga Petani Sukamulya Dibebaskan”, 24 November 2016, diakses pada 25 November 2016, https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3353710/puluhan-mahasiswa-di-sukabumi-minta-tiga-petani-sukamulya-dibebaskan

About the author

Felani Galih Prabawa

Travelouge

1 Comment

Leave a Comment

WordPress spam blocked by CleanTalk.