12 Jenis Bias ini Tanpa Sadar Sering Kita Lakukan


ANAKGUNDAR.COM 2016
12 Jenis Bias Ini Tanpa Sadar Sering Kita Lakukan

ANAKGUNDAR.com, Depok – Dalam kehidupan sehari-hari, secara tanpa sadar sering kali kita terkena yang namanya Bias. Contoh gampangnya adalah hallo effect ketika baru bertemu seseorang, walaupun sebenarnya hal itu berbeda. Sebagian peneliti psikolog sosial percaya bahwa bias-bias kognitif bisa membantu kita memproses informasi dengan cara lebih efisien, khususnya dalam situasi yang berbahaya. Namun, bias-bias kognitif tersebut bisa menyebabkan kita membuat kesalahan besar. Kita boleh jadi cenderung salah dalam melakukan penilaian.

Logical Fallacies atau Kesalahan logika adalah sebuah eror dalam argumentasi logis. Contohnya Ad Hominem Attack (menyerang dengan argumen membabi buta), Slippery Slopes (suka menyulut-nyulut masalah sehingga menjadi besar), circular arguments (suka memberi argumen yang berputar-putar), Appeal to Force (suka memaksakan kehendak), dan lain sebagainya. Sedangkan kognitif bias adalah adalah pola kesalahan berpikir atau penyimpangan dari norma atau rasionalitas dalam penilaian, dimana kesimpulan tentang orang lain dan situasi ditarik berdasarkan persepsi individu dengan cara yang tidak logis sehingga menciptakan “realitas sosial subjektif” mereka sendiri atau disebut keirasionalan.

Di bawah ini adalah beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

  • Bias Konfirmasi (Confirmation Bias)

Kita suka setuju dengan orang-orang yang sependapat dengan kita. Itulah sebabnya kita hanya mengunjungi website yang mengekspresikan pandangan politik kita dan suka bergaul dengan orang-orang yang mempunyai pandangan. Kita cenderung merasa terganggu oleh individu-individu, kelompok-kelompok, dan sumber-sumber berita yang membuat kita tidak nyaman dan tidak percaya diri mengenai pandangan-pandangan kita. Hal ini disebut disonansi koginitf (Cognitive Dissonance) oleh behavioral psychologist, B.F. Skinner.

Image result for bias
Saya vs Anda.

Tingkah laku seperti inilah yang mengarah pada bias kogntitif—perbuatan kita merujuk pada perspektif-perspektif yang mendukung pandangan kita saja yang sering kali dilakukan secara tidak sadar, dan pada saat yang sama mengabaikan atau menganggap rendah pandangan-pandangan lain yang dinilai mengancam pandangan kita.

  • Bias Kelompok (Ingroup Bias)

Bias ingroup adalah sebuah perwujudan dari kecenderungan sifat-sifat kelompok kita. Meski membantu kita memperkuat hubungan dengan orang-orang yang ada dalam ingroup, bias ini bisa menjadi penyebab kerenggangan hubungan kita dengan orang yang berada di luar kelompok. hal ini membuat kita selalu curiga, takut, dan bahkan melecehkan pandangan orang lain. Bias ingroup ini membuat kita menilai berlebihan kemampuan dan nilai-nilai yang ada dalam kelompok kita dan mengabaikan pandangan orang-orang yang berada di luar kelompok kita.

Image result for group bias
Kita vs Mereka.
  • Efek Bandwagon (Bandwagon Effect)

Meski sering kali tidak kita sadari, kita suka mengikuti arus atau ikut-ikutan. Ketika pendapat mayoritas mulai memilih seorang tokoh  atau seorang yang difavoritkan, ketika itulah otak kita secara individual mulai menutup dan masuk ke dalam sejenis “groupthink” atau hivemind-mentality. Efek bandwagon sering menyebabkan tingkah laku, norma-norma sosial, dan meme berkembang pesat di antara kelompok-kelompok individual dan tidak peduli mengenai bukti-bukti dan motif-motif pendukungnya. Inilah sebabnya mengapa jajak pendapat sering tidak dipercaya, karena mereka dapat mengarahkan perspektif individu sesuai dengan yang diharapkan.

Image result for Bandwagon Effect
Hhmm… jadi ingat kasus tertentu.
  • Kekeliruan Penjudi (Gambler’s Fallacy)

Disebut kekeliruan (fallacy), tapi ini lebih merupakan sebuah gangguan dalam pikiran kita. Kita cenderung untuk menempatkan sejumlah besar beban pikiran pada peristiwa sebelumnya, dan percaya bahwa mereka entah bagaimana akan mempengaruhi hasil di masa depan. Ini berarti pikiran bahwa keberuntungan pada akhirnya akan berubah dan nasib baik akan segera datang. Contohnya adalah perasaan yang sama kita dapatkan ketika kita memulai hubungan baru yang membawa kita untuk percaya akan lebih baik daripada yang sebelumnya.

Image result for Gambler's Fallacy
Take a gamble.
  • Mengabaikan Kemungkinan (Neglecting Probability)

Psikolog sosial Cass Sunstein mengartikan Neglecting Probability adalah cara kita untuk memahami dengan tepat akan bahaya dan resiko, yang sering kali membuat kita melebih-lebihkan resiko dari aktifitas yang sebenarnya relatif aman, dan sebaliknya menganggap aman aktifitas yang sebenarnya lebih berbahaya.

Image result for Neglecting Probability
Neglecting Probability.

Misalnya, kita lebih tenang ketika mengendarai mobil dibandingkan ketika berpergian menggunakan pesawat. Karena kita menganggap kecelakaan akan lebih mudah terjadi dan lebih berbahaya ketika menggunakan pesawat. Padahal kenyataanya, kecelakaan di jalan raya lebih banyak dibandingkan yang terjadi di udara.

  • Bias Status-Quo (Status-Quo Bias)

Kita manusia cenderung aprehensif terhadap perubahan, yang sering kali menyebabkan kita membuat pilihan yang menjamin bahwa segala sesuatunya akan tetap sama, atau hanya sedikit sekali berubah. Kita suka terpaku pada tugas-tugas rutin kita, partai politik kita, dan pada makanan atau restoran kesukaan kita. Sebagian dari keburukan dari bias ini adalah adanya asumsi yang tidak beralasan bahwa pilihan lain akan membuat sesuatunya menjadi lebih buruk. Bias Status Quo bisa disimpulkan dengan ungkapan yang berbunyi, “jika tidak rusak, jangan diperbaiki”—sebuah adagium yang memicu kecenderungan konservatif kita.

Image result for Status-Quo Bias
Status-Quo Bias.
  • Bias Negativitas (Negativity Bias)

Orang cenderung lebih memperhatikan berita yang buruk-buruk dibandingkan berita baik. Kita juga cenderung memberi kredibiltas yang lebih besar pada berita-berita buruk, mungkin karena kita curiga (atau bosan) atas pernyataan yang baik-baik melulu. Sekarang ini, kita lebih suka berkecimpung dengan berita-berita negatif dan mengabaikan berita-berita yang baik. Steven Pinker, dalam bukunya “The Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined”, berargumen bahwa kejahatan, kekerasan, perang, dan ketidakadilan-ketidakadilan lainnya sebenarnya telah berkurang, namun kebanyakan orang berpendapat bahwa segala sesuatunya menjadi lebih buruk karena terus-terusan diliput oleh media.

Image result for Negativity media
Negativity Bias.
  • Bias Proyeksi (Projection Bias)

Sebagai individual yang setiap saat terjebak di dalam pikiran kita sendiri, sering kali sulit bagi kita untuk memproyeksikan diri di luar lingkungan kesadaran dan preferensi kita sendiri. Kita cenderung berasumsi bahwa kebanyakan orang berpikir sama dengan kita—meski tidak ada yang membenarkan tentang itu. Kelemahan kognitif ini sering kali menimbulkan efek yang dikenal sebagai false consesnsus bias, dimana kita cenderung mempercayai bahwa orang lain tidak hanya berpikir sama dengan kita, namun mereka juga setuju dengan kita. Lebih dari itu, bias ini juga bisa menciptakan efek di mana para anggota sebuah kelompok radikal atau kelompok pinggiran berasumsi bahwa ada lebih banyak orang di luar kelompok mereka yang setuju dengan mereka, padahal mah belum tentu.

Image result for Projection Bias
Projection Bias
  • Bias Saat Ini (The Current Moment Bias)

Kita mengalami kesulitan dalam membayangkan diri kita sendiri di masa yang akan datang dan mengubah tingkah laku kita dan ekspektasi kita agar sesuai dengan harapan kita. Kebanyakan kita lebih suka mengalami rasa senang di saat sekarang, dan menyingkirkan rasa sakit untuk masa nanti. Bias ini sering terjadi pada remaja sekarang dengan mengatakan “Nakal boleh, bego jangan” atau “Senang-senanglah selagi muda” tanpa memikirkan bagaimana di masa mendatang.

Image result for awkarin
Pasti tau lah ya ini siapa.
  • Bias Seleksi Observasional (Observational Selection Bias)

Inil adalah efek dari memperhatikan secara tiba-tiba segala sesuatu yang kita tidak begitu kita perhatikan sebelumnya. Bias kognitif ini juga mengakibatkan timbulnya perasaan bahwa munculnya sesuatu atau peristiwa tertentu tidaklah mungkin hanya kebetulan belaka (meski sebenarnya memang sebuah kebetulan).

Image result for Observational Selection Bias
Observational Selection Bias.
  • Rasionalisasi Pasca-Beli (Post-Purchase Rationalization)

Pernahkah kalian membeli sesuatu barang yang sama sekali tidak penting, barang yang cacat, atau kalian telah mengeluarkan uang banyak, dan kemudian kalian merasionalisasi pembelian tersebut sedemikian rupa hingga yakin bahwa itu tidak salah? Ya, itulah yang disebut rasionalisasi pasca-beli. Bias ini juga dikenal sebagai Buyer’s Stockholm Syndrome, sebuah cara yang secara tidak sadar membenarkan perbuatan kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu, khususnya jika membeli sesuatu yang mahal.

ANAKGUNDAR.COM 2016
Shopping. Via: 10Best.com
  • Efek Jangkar (Anchoring Effect)

Bias jenis ini juga dikenal sebagai jebakan relativitas, ini adalah kecenderungan kita harus membandingkan dan mengontraskan beberapa jenis barang. Hal ini disebut efek penahan karena kita cenderung terpaku pada nilai atau jumlah barang yang akan dibandingkan dengan hal lainnya. Contoh klasik adalah item di toko yang dijual, kita cenderung melihat perbedaan harga dan beberapa menu restoran memiliki makanan pembuka yang sangat mahal, sementara ada juga yang lebih murah. Ini juga mengapa, ketika diberi pilihan, kita cenderung untuk memilih opsi tengah yang berarti tidak terlalu mahal, dan tidak terlalu murah.

Image result for Anchoring Effect
Anchoring Effect.

 

Referensi:

MrJoe, “The 12 cognitive biases that prevent you from being rational”, 17 November 2014, diakses pada 1 Desember 2016, http://psychologyfordesigners.com/the-12-cognitive-biases-that-prevent-you-from-being-rational/

Previous Sertifikasi adalah Senjata Ampuh Bagi Para Fresh Graduate Jurusan IT
Next Mahasiswa Berpikir Kritis? Sudah Seharusnya Begitu!

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *