Analisa Historis: Tragedi Berdarah Paris dan Peristiwa Friday 13th


Analisa Historis: Tragedi Berdarah Paris dan Peristiwa Friday 13th

ANAKGUNDAR.com, Depok – Pada Jumat malam (13/11/2015) di Paris, Perancis telah terjadi sebuah peristiwa yang begitu mengerikan. Warga Paris pada malam waktu setempat itu, dibantai habis-habisan oleh kelompok orang tidak dikenal. Sekitar 150 orang tewas di 4 wilayah yang berbeda. Media internasional pun mengungkapkan bahwa aksi ini adalah aksi terorisme. Benarkah ini sebuah aksi terorisme? Atau sebuah perpanjangan dari sejarah yang pernah terjadi ratusan tahun silam?

Bila kita membuka kembali sejarah-sejarah lama, maka kita akan mendapatkan sebuah kemiripan peristiwa dengan yang terjadi hari ini. Selain itu, sejarah pun memberikan penjelasan yang nyata, bahwa hari ini kita masih termasuk kedalam cerita yang ada pada sejarah tersebut.

Aksi pembantaian yang terjadi di Paris pada Jumat malam lalu seakan-akan adalah kelanjutan dari aksi Friday 13th yang terjadi pada masa pembantaian Ksatria Templar. Bagi kalian yang memercayai teori konspirasi pun pasti merasakan hal ini. Mari kita Tarik benang kusut ini agar kita temukan pencerahan dari peristiwa Paris Friday 13th malam lalu dan keterkaitannya dengan sejarah Friday 13th itu sendiri.

Dari sekian banyak literatur sejarah yang mencatat tentang peristiwa Friday 13th, buku History of Modern Europe menjadi salah satu referensi terbaik untuk mendalami kisah sejarah dari para Ksatria Templar ini. Perancis sendiri memiliki hubungan khusus dengan sejarah dari Ksatria Templar.

AnakGundar.com
Ksatria Templar. Dok: hitambinhideung.blogspot.com

Sekitar tahun 1119 setelah Crusade (Perang Salib) yang pertama, seorang bangsawan Perancis, bernama Hugues de Payens, bangsawan dari Champagne mengumpulkan delapan ksatria termasuk Godfrey de Saint-Omer, dan mulai membentuk Orde, misi utama mereka melindungi para peziarah dari para perampok dalam perjalanan mereka ke Yerusalem. Mereka meminta Raja Baldwin II dari Yerusalem, yang kemudian mengijinkan mereka untuk memiliki markas di Temple Mount. Mereka kemudian dikenal sebagai The Pauperes Commilitones Christi Templique Solomonici –Ksatria Kristus dan Kuil Sulaiman, yang kemudian lebih dikenal sebagai Knight Templar (Ksatria Templar).

Anggota awal Orde ini terdiri dari Hugues de Payens dan delapan ksatria, dua diantaranya adalah saudara, dan mereka semuanya memiliki hubungan darah atau terikat oleh hubungan pernikahan, Godfrey de Saint-Omer, Payne de Monteverdi, Archambaud de St Agnan, Andre de Montbard, Geoffrey Bison dan dua pria yang dikenal hanya dengan nama Rossal dan Gondamer. Ksatria ke sembilan sampai sekarang masih menjadi perdebatan, spekulasi yang berkembang dia adalah Count Hugh of Champagne, meskipun Count kembali ke Prancis pada tahun 1116, tapi beberapa bukti menyebutkan dia bergabung dengan Ksatria Templar pada kunjungan ketiganya ke Yerusalem.

Tidak banyak yang terjadi pada orde ini dalam sembilan tahun awal mereka berdiri, tapi di tahun 1129, setelah mereka secara resmi dikukuhkan oleh gereja dalam Council of Troyes, mereka menjadi sangat terkenal di seluruh penjuru Eropa, kampanye penggalangan dana mereka meminta sumbangan uang, tanah, atau putra-putra mulia kelahiran bangsawan untuk bergabung dengan Orde, dengan implikasi bahwa sumbangan akan membantu baik untuk membela Yerusalem, dan memastikan pemberi amal tempat di surga. Ini tentu sangat mirip sekali dengan prosedur yang diterapkah oleh ISIS dalam memperbesar organisasinya.

AnakGundar.com
Concile de Troye. Dok: www.renneslechateau.nl

Ksatria Templar menjadi pasukan elit pada masa itu, sangat terlatih dengan perlengkapan perang yang sangat lengkap, memiliki motivasi tinggi, salah satu doktrin dalam orde mereka adalah mengharamkan mundur dalam pertempuran, meskipun kalah jumlah satu berbanding tiga, meskipun komando dari pemimpin mereka memerintahkan untuk mundur, atau bendera mereka telah tumbang, bahkan kuda-kuda mereka sangat terlatih dalam peperangan, dengan baju zirah lengkap. Kombinasi antara pejuang dan rahib dalam setiap prajurit menjadikan mereka salah satu kekuatan terhebat dimasanya.

Knight of Templar juga disebut sebagai tentara miskin Pengikut Yesus Kristus dan Kuil Sulaiman. Disebut miskin karena tergambar dari logo yang mereka gunakan, seperti dua tentara yang menunggang seekor keledai. Untuk menunjukkan bahwa mereka miskin, sampai-sampai satu keledai harus dinaiki dua orang tentara Knight of Templar. Bahkan tercatat, mereka dipaksa untuk makan tiga kali saja dalam semingu. Sedangkan nama Kuil Sulaiman mereka pakai karena mereka menjadikan markas mereka yang dipercayai sebagai situs runtuhnya Kuil Sulaiman atau Solomon Temple.

Tapi sesungguhnya, pemilihan markas di bukit ini bukan sebuah kebetulan yang bersifat geografis semata, karena para pendiri ordo Knight of Templar sesunguhnya punya cita-cita sendiri untuk mengembalikan kejayaan dan berdirinya Kuil Sulaiman sebagai tempat suci kaum Yahudi atau tempatnya kaum Mason. Sepanjang bisa terlacak, pendiri ordo ini adalah dua kesatria Prancis, yaitu Hugh de Pavens dan Godfrey de St Omer. Spekulasi dari kalangan sejarawan mengatakan, bahwa ada darah-darah Yahudi yang mengalir dalam tubuh dan cita-cita para pendiri Ordo Knigh of Templar. Para perwira tinggi Kristen tersebut, sesungguhnya proses convertion yang mereka lakukan hanyalah cara untuk menyelamatkan diri, dan sesungguhnya mereka masih berpegang teguh pada doktrin-doktrin Yahudi, terutama Kabbalah.

AnakGundar.com
Hugh de Payens. Dok: blog.templarhistory.com

Tentu saja kharisma dari semangat Ksatria Templar ini menjadi sangat populer pada masyarakat saat itu, terlebih lagi mereka juga memiliki juru bicara dalam Gereja bernama St Bernard (Diangkat sebagai Kepala Biara Clairvaux pada usia 25 tahun) yang sangat dihormati dan memiliki pengaruh yang besar terhadap Paus serta Raja Prancis. St Bernard ini juga merupakan sepupu dari Andre de Montbard. St Bernard adalah orang yang juga menyusun Rule for The Templars.

St Bernard terkenal dengan karyanya yang bernama De Laude Novae Militae yang berisi pujian kepada Ksatria Templar. Kampanye penggalangan dana mereka meminta sumbangan uang, tanah, atau putra-putra mulia kelahiran untuk bergabung dengan Ordo, dengan menyiratkan bahwa sumbangan akan membantu baik untuk membela Yerusalem, dan memastikan pemberi amal akan bertempat di Surga.

AnakGundar.com
St Bernard de Clairvaux. Dok: jfb-levage.com

Atas pengaruh St Bernard, pada tahun 1129M, di Dewan Troyes (Council of Troyes) ia memimpin sekelompok gereja untuk meresmikan dan mendukung ordo Templar atas nama Gereja. Dengan berkat formal tersebut, ordo Templar menjadi tempat amal favorit di seluruh dunia Kristen, dengan menerima uang, tanah, dan bisnis. Manfaat paling besar datang pada tahun 1139M, Paus Innocent II mengeluarkan keputusan Omne Datum Optimum yang isinya membebaskan Orde templar dari ketaatan kepada hukum setempat. Keputusan ini berarti bahwa Templar bisa lewat dengan bebas melalui semua perbatasan, juga tidak diharuskan untuk membayar pajak, dan menjadi organisasi yang otonom yang bertanggung jawab secara langsung kepada paus.

Kekayaan Templar terus bertambah setiap hari bagaikan bunga bank yang mereka tetapkan dalam perbankan. Pada 1147, setidaknya ada 700 kstaria Templar berikut 2400 pelayannya di Yarusalem. Di berbagai penjuru dunia, terutama di Eropa, sekitar 3468 kastil sudah menjadi milik Ordo Templar.

“Ksatria Templar adalah pemodal-pemodal yang ahli, yang menggunakan teknik perdagangan yang belum dikenal bangsa Eropa pada masa itu. Mereka mempelajari teknik-teknik seperti itu dari sumber-sumber Yahudi, namun dalam pelaksanaannya mereka mengembangkannya sedemikian rupa dengan cara mereka sendiri demi memperluas kerajaan keuangan mereka.”Alan Butler dan Stephen Dafoe.

Setelah pertempuran Siege Of Acre 1291, (Fall of Acre) Ksatria Templar memindahkan markas pusatnya ke kepulauan Cyprus, pada tahun 1300, Ksatria Templar mencoba mengambil alih pantai Tortosa, mereka berhasil menguasai pulau Arwad di dekat Tortosa, tetapi kemudian dipukul mundur oleh pasukan Salahudin, dengan kekalahan ini, Ksatria Templar telah kehilangan pijakan di wilayah Yerusalem, Tanah Suci. Orde Templar dengan cepat kehilangan arah dan dukungan, tetapi mereka masih memiliki kemampuan finansial yang sangat kuat, ketidakstabilan situasi ini menuntun mereka kepada kehacuran.

AnakGundar.com
The Fall of Acre. Dok: bennosfiguresforum.com

Terbentuknya Ksatria Templar adalah peristiwa besar yang terjadi pada abad pertengahan, dan kehancuran mereka tercatat sebagai peristiwa bersejarah. Tapi mereka tidak sepenuhnya hancur, sekitar 15000 rumah Templar tersebar di seluruh penjuru Eropa, mereka memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk membeli sebuah kerajaan, hal ini yang menyebabkan munculnya kecemburuan atau lebih tepatnya ketakutan kalangan bangsawan Eropa.

Orde ini adalah ancaman, ksatria ini sangat baik dalam menggunakan pedang dan mereka adalah ahli finansial, banker dengan pedang mungkin tepat menggambarkan siapa mereka. Merekalah pencipta sistem perbankan modern, sistem cek perjalanan adalah hasil ciptaan mereka, bahkan termasuk uang kertas itu sendiri.

Karena ordo ini sangat berkuasa, lambat laun mereka mulai menampakkan ciri aslinya, yakni sebagai penganut Mason. Mereka mengembangkan doktrin dan ajaran mistik, juga kekuatan sihir di biara-biara mereka. Mereka memuja setan dan mendatangkan roh-roh untuk berkomunikasi. Apa yang mereka praktikkan ini disebut sebagai Kabbalah, sebuah tradisi mistik Yahudi kuno yang telah berkembang bahkan sejak zaman sebelum Firaun.

Mengetahui hal ini, Raja Perancis Philip le Bel, pada tahun 1307 mengeluarkan seruan untuk menangkap dan membubarkan ordo Knight of Templar karena dituduh telah melakukan bidah (Kesesatan). Dalam perkembangannya, Paus Clement V turut bergabung untuk memerangi kaum Mason ini dengan mengeluarkan kembali vonis inquisisi.

Terjadi banyak penangkapan dan interogasi, dan beberapa pimpinan Ordo Knight of Templar yang bergelar Grand Master (penyebutan ini masih dipakai sebagai tingkat tertinggi dalam gerakan Freemasonry sampai sekarang) ikut menjadi korban. Dari beberapa penangkapan dan interograsi didapatkan keterangan bahwa anggota-anggota Templar telah melakukan kejahatan seksual terhadap beberapa perempuan bangsawan, melakukan sodomi, menyembah kucing, memakan daging teman-teman mereka sendiri yang sudah mati. Bahkan salah seorang saksi mata mengatakan, para Templar memperkosa perawan-perawan hingga hamil dan bayinya dibunuh dengan cara yang sadis untuk kemudian di bakar dan diambil minyaknya, dijadikan minyak suci untuk persembahan para pemimpin mereka.

Pada Jumat, 13 Oktober 1307 dibawah perintah Raja Philip IV dari Prancis dan atas persetujuan Paus, tentara kerajaan dengan operasi terencana melakukan penangkapan semua Ksatria Templar di Prancis. Sekitar 15.000 anggota templar ditangkap hari itu, dan hanya 20 orang yang berhasil lolos. (literatur lain menuliskan hanya sekitar tiga ratus anggota templar tertangkap)

Berbagai tuduhan telah dibuat terhadap mereka berhubungan dengan bidah (kesesatan), penghujatan dan amoralitas. Hampir semua disiksa sampai mati untuk membuat mereka melakukan “pengakuan”. Semua aset mereka diambil oleh raja, jadi itu adalah operasi yang sangat menguntungkan untuk Philip IV tentunya.

Darah Templar mengalir di seantero Perancis, Grand Master terakhir Order ini, Jacques de Molay –salah satu ksatria yang tertangkap pada Jumat Oktober 13th 1307 disiksa dan kemudian dibakar di tiang pada 1314 di depan Katedral Notre Dame. Kata-kata terakhirnya adalah kutukan kepada raja Perancis dan Paus yang menginginkan kedua orang tersebut pun mati pada tahun yang sama. Perisitiwa ini kemudian diabadikan oleh sejarah dengan sebutan Friday 13th yang terkenal penuh kesialan dan kemalangan.

AnakGundar.com
Friday 13th 1307. Dok: spaceghetto.net

Setelah kita memelajari alur sejarah tentang Ksatria Templar dan Friday 13th, lalu bagaimana hubungannya dengan peristiwa berdarah yang terjadi di Paris pada 13 Nopember 2015 kemarin? Pertama, sudah sangat jelas bahwa ini adalah kelanjutan dari alur sejarah masa lalu. Kita harus sadar bahwa sejarah itu tidak putus begitu saja. Kisah Ksatria Templar masih dilanjutkan hingga hari ini, tapi tentu saja dengan alur yang berbeda.

Tragedi Friday 13th di Paris kemarin bukan sekedar ulah teroris belaka, tapi merupakan aksi-aksi balas dendam dari keturuan-keturunan para Prajurit Templar yang masih hidup hingga hari ini. Sebagian dari kita mungkin tidak percaya, tapi dunia saat ini bukan diancam oleh ISIS, tapi kita masih berperang dengan musuh lama kita.

Terlalu tabu sepertinya bagi media internasional untuk mengangkat ke permukaan tentang keterkaitan sejarah Ksatria Templar dengan tragedi berdarah di Paris. Walau bagaimana pun, sejarah mencatat bahwa pembantaian Ksatria Templar terjadi di Perancis, dan kejadian Paris kemarin pasti ada hubungannya rangkaian sejarah tersebut.

Kita masih melanjutkan kisah sejarah tersebut. Bisa jadi kita menjadi objek dari para subjek sejarah-sejarah masa lalu. Tetap waspada dan tetap kritis. Ada yang ingin mengendalikan dunia. Peperangan masih berlanjut. Percaya atau tidak? Silakan kembali pelajari sejarah tentang peradaban dunia.

 

Thanks to:

sinangdoyo.wordpress.com, galifakta.blogspot.co.id, sometronom.blogspot.co.id

Previous Lebih Dekat dengan Tarung Derajat
Next Negara Indonesia Bisa Hancur dengan Mudah, Jika…

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *