Gundarpedia

Jejak Keluarga Kiri Mahasiswa Gunadarma

AnakGundar.com 2016 "Berani Berkarya"

ANAKGUNDAR.com, Depok – Melihat mahasiswa Gunadarma hari ini nyaris sama sekali tidak ada gerakan progresif untuk melawan ketidak adilan. Jangankan untuk melawan isu yang berskala nasional, bahkan untuk gerakan lokal yang melawan kebijakan-kebijakan kampus yang tidak masuk akal pun sudah bisa dikatakan mati. Ya, era pergerakan Gunadarma telah mati sejak digulingkannya KM Gunadarma pada tahun 2005 silam oleh pihak rektorat.

KM Gunadarma atau Keluarga Mahasiswa Gunadarma adalah organisasi eksternal progresif yang didirikan pada tahun 1997. Dalam catatan sejarahnya, organisasi ini lebih besar dari pada BEM Unv. Gunadarma. KM Gunadarma selalu dijadikan alternatif mahasiswa Gunadarma saat untuk melakukan sebuah pergerakan besar, contohnya seperti pada tahun 1998.

AnakGundar.com 2016

Tragedi Mei 1998. Via: nationalgeographic.co.id

Pada tahun 1998 silam, puluhan mahasiswa yang berasal dari Gunadarma bergabung dalam KM Gunadarma untuk berangkat ke Semanggi demi melawan rezim Orde Baru. Di tahun yang sama, KM Gunadarma pun melakukan kegiatan leadership training atau pelatihan kepemimpinan yang pertama kali sejak berdiri pada 1997.

Legalitas organisasi sayap kiri ini tentu tidak mendapat SK dari Rektor secara langsung, ini artinya bahwa KM Gunadarma adalah organisasi eksternal. Namun, tidak diakuinya organisasi ini secara administratif oleh kampus tidak membuat KM Gunadarma kehilangan taji. Justru, suara mereka sangat berpengaruh sekali dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan kampus.

Sayap kiri Gunadarma ini memiliki sebuah posko yang terletak di samping kampus E, sekarang yang menjadi Chocholate Printing. Dalam posko itu, mereka sering kumpul dan berdiskusi bersama. Suasana aktif, progresif, dan dialektis pun sangat terasa di posko tersebut. Posko ini pun digunakan untuk menjaring mahasiswa-mahasiswa Gunadarma lain yang progresif.

AnakGundar.com 2016 "Berani Berkarya"

Lambang KM Gunadarma.

Sementara itu, sekretariat resmi KM Gunadarma berada di sebuah kost-an bernama Pentagon. Pendek tapi gondrong, begitulah kepanjangan Pentagon yang menjadi markas besar KM Gunadarma. Pentagon terletak dilokasi yang sekarang menjadi lapangan futsal GS. Jauh sebelum GS ada, disinilah mahasiswa yang tergabung dalam KM Gunadarma merumuskan gerakan-gerakan strategis untuk melawan.

KM Gunadarma aktif dalam isu-isu sosial seperti yang menyangkut pada buruh, tani, miskin kota, dan rakyat-rakyat yang tertindas oleh kebijakan negara pada saat itu. Kajian-kajian tentang Marxis pun selalu menjadi topik utama, karena semangat mereka bermuara dari pemikiran Karl Marx tersebut.

Selepas masa Orde Baru dan beralih ke Reformasi, KM Gunadarma ini terus melakukan pergerakan-pergerakan dengan tujuan memberikan keadilan yang seadil-adilnya bagi rakyat Indonesia. Ketika hendak mencapai umur yang ke-8. KM Gunadarma ini mendapat goncangan dari pihak kampus.

Ketika itu, posko mereka diluluh lantahkan oleh aparat keamanan kampus. Bahkan pihak kampus pun mengancam DO bagi mahasiswa-mahasiswa yang mau membela keberadaan KM Gunadarma ini. Awalnya sempat ada perlawanan dari pihak KM Gunadarma untuk melindungi karya-karya mereka, tapi pada tahun 2005, KM Gunadarma benar-benar dimatikan oleh pihak kampus.

Kemudian, pasca aksi pembubaran oleh pihak kampus, para aktivis KM Gunadarma saling berpencar. Sebagian dari mereka ada yang masuk Forkot (Forum Kota), dan masih ada pula yang melakukan gerakan-gerakan bawah tanah dengan masih menggunakan sisa-sisa nama KM Gunadarma.

Kejadian yang menimpa KM Gunadarma pada tahun 2005 ini ternyata benar-benar mematikan gerakan dan eksistensi mereka di kampus. Semakin kesini, wajah lingkungan pun semakin berubah. Pentagon pun mulai dirubuhkan dan dijadikan tempat seperti sekarang. Seiring berjalannya waktu, gerakan di Gunadarma mengalami anti-klimaks. Tidak ada gerakan pemersatu antar jurusan, fakultas, bahkan universitas seperti KM Gunadarma.

AnakGundar.com 2016

Gerakan berskala nasional terakhir dari Gunadarma yang tergabung dengan Aliansi Mahasiswa Indonesia (2014). Via: citizendaily.net

Hasilnya, saat ini gerakan di Gunadarma benar-benar mati. Organisasi internal seperti BEM atau pun jurusan dinina bobokan sehingga tidak punya kekuatan untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran. Sebagai contohnya, tak lama ini ada salah satu BEM Fakultas di Gunadarma yang ditolak program kerjanya oleh Wakil Dekan mereka sendiri gara-gara ingin menggelar acara talk show terbuka yang melibatkan mahasiswa dengan pihak kampus, terutama rektorat.

Organisasi eksternal yang saat ini eksis di Gunadarma pun tidak bisa memberikan perlawanan kuat untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan di kampus sendiri. Alasannya banyak, salah satunya mungkin karena gerakan yang cenderung eksklusif (gerak sendiri-sendiri).

Cerita tentang KM Gunadarma ini saya dapatkan secara tidak sengaja pada hari Jumat (8/04/2016) malam di Sekretariat Lisuma Gunadarma dari seorang mahasiswa BSI angkatan 2007 yang secara kebetulan ia menyaksikan secara langsung kiprah dari KM Gunadarma, karena saat itu ia sering main ke tempat kostan temannya yang berdekatan dengan markas KM Gunadarma. Ia bercerita banyak tentang KM Gunadarma dan gerakan-gerakan lain yang pernah ada di Gunadarma.

Para penggagas dari KM Gunadarma yang namanya saya dapatkan dari mahasiswa BSI 2007 tersebut sempat saya cari dijejaring sosial pertemanan, Facebook. Dan mereka benar-benar ada, salah satu diantaranya adalah Agus Budiman. Ia bahkan saat ini masih saling mengucapkan selamat untuk hari jadi KM Gunadarma dengan para sahabat-sahabatnya yang lain melalui Facebook.

Akan tetapi, saya tidak bisa menemukan foto-foto tentang KM Gunadarma. Maklumlah, pada saat itu gerakan ini tidak untuk ajang eksistensi, lagian teknologi masih belum seperti sekarang. Sebuah foto yang dapat saya temukan dari puing-puing sejarah KM Gunadarma hanya ini:

AnakGundar.com 2016 "Berani Berkarya"

Plang buatan KM Gunadarma.

Kendati wadah kiri sudah mulai terkikis zaman, tapi mahasiswa-mahasiswa kiri progresif masih saya lihat di kampus ini. Tidak banyak, tapi meski begitu keberadaan mereka seperti emas di dalam lumpur. Emas adalah semangat-semangat untuk menyatakan ketidak nyamanannya dengan konstalasi politik kampus dan nasional. Lumpur adalah mahasiswa atau pun bahkan dosen saat ini yang hidupnya sudah nyaman, sehingga mencibir terus anak kiri. Tapi, gak semua dosen. Masih ada juga dosen yang sering bilang, “Demoin aja kalo kalian kuliah masih pake OHP.”

Atmosfir Gunadarma hari ini hanya sebatas tempat belajar biasa. Bukan untuk tempat berkumpul, berserikat, dan melakukan sebuah hal yang dirasa bermanfaat untuk masyarakat luas. Mahasiswanya dicetak agar menjadi seorang pekerja dengan dipadatkannya jadwal kuliah, kursus, workshop, dan praktikum. Sehingga ruang gerak mereka untuk merumuskan hal-hal bermanfaat menjadi hilang, kecuali bagi mereka yang ingin melawan arus.

Hidup Mahasiswa!!!

About the author

Felani Galih Prabawa

Travelouge

7 Comments

Leave a Comment

WordPress spam blocked by CleanTalk.