Gundar Hari Ini Viral News

Lensa Cekung Fenomena Vionina Magdalena dalam Studi Gender, Feminisme, dan Hukum Pornografi

ANAKGUNDAR.COM 2017

ANAKGUNDAR.com, Depok – Ada fenomena yang kembali menggemparkan disaat yang sebelah juga masih gempar aja dan belum beres-beres. Takbirrrrr!!! Beberapa hari lalu rame banget alias viral di media sosial, grup WA, LINE, Facebook, Twitter, dan sejenisnya tentang seorang perempuan yang sedang membeli Nail Polish dengan keadaan nyaris tanpa busana—berbusana sih, cuman topless dan diketahui akhir-akhir ini bernama Vionina Magdalena.

ANAKGUNDAR.COM 2017

Nih gambarnya. Barang kali lupa. Dok: Tribun Timur

Dan beberapa detik, menit, bahkan jam ke depan berbagai macam berita muncul ke permukaan dengan asumsi-asumsi asubstantif yang kayaknya udah lumrah banget disini. Mulai dari kantor berita besar sampe Lambe Turah gak ketinggalan buat komentar hanya dengan satu sudut pandang, yaitu “Cewek Telanjang”.

Kesel gak sih lo ketika yang diberitakan itu mulai menjauh dari akar masalahnya, contohnya kayak beritain akun Instagram Vionina. Terus kenapa kalo akun Instagram dia kebanjiran follower atau viewer? Menurut gue, gak ada penting-pentingnya banget.

Berita ini semakin rame lagi ketika pihak berwenang dalam hal ini Polisi menyebarkan sayembara dengan iming-iming hadiah bagi siapapun yang berhasil menemukan si perempuan naked itu. Udah kayak di film-film Sherif ala Amerika gitu yang lagi memburu kartel Ophium dan posternya dipasang disetiap Bar.

Dan karena berita yang kemana-mana itu, maka para pembaca pun banyak yang tergiring dengan opini-opini sensasional ala-ala headline berita masa kini. Kalo gak percaya liat aja kolom komentarnya. Nalar netizen semakin kacau, untung aja gue gak nemuin kalo berita Vionina itu adalah sebuah pengalihan isu dari aksi Bela-Belaan—cuma udah agak biasa aja sih menurut ane.

ANAKGUNDAR.COM 2017

Hasil penelusuran ane di page one Google, Gan.

Berita terakhir yang gue baca dan dirasa sedikit mencerahkan adalah dari situs vice.com yang ditulis oleh kawan Alice dengan headline—yang agak British “What Our Obsession With That Nude Woman Story Says About Sexism in Indonesia”.

Dalam tulisannya tersebut, Alice mengungkapkan bahwa ada dua perbedaan besar dalam masalah ini yang ujungnya kembali kepada problematika Gender.

“The fact that there’s a huge standard here. Think about it for a second. When is the last time you saw this much media attention about some scrawny naked dude wandering around in broad daylight? Have you ever seen an entire city suddenly question a man’s morality over his ‘pornographic’ behavior?”

Dan diakhir artikelnya itu, Alice bilang bahwa para perekam video dan media seperti predator yang menyiramkan bensin ke api yang lagi nyala-nyalanya.

Para pembaca yang berbahagia…

Lalu bagaimana jika melihat ini dalam lensa yang lebih luas? Dengan tujuan kita mampu mengambil esensi yang pas dan nyata dari fenomena Vionina tersebut? Dan tidak tersesat dalam asumsi-asumi atau opini-opini sensasional.

Tak lama kemudian, gue menghubungi teman kuliah, alumni Teknik Informatika Gunadarma angkatan 2011 yang sekarang melanjutkan studi S-2 di Universitas Indonesia mengambil Program Studi Kajian Gender.

“Memang untuk menganalisis sesuatu kita tidak boleh cepat mengambil kesimpulan. Harus melihat konteks masalahnya terlebih dahulu. Dan apa yang diungkapkan Alice dalam artikelnya tidak salah, tapi menurut gue terlalu cepat juga kalo menyimpulkan fenomena tersebut sebagai masalah gender,” kata Andi mengawali diskusi malam itu.

Kita semua tahu bahwa Indonesia ini adalah negara Pluralis, tidak hanya untuk ras dan etnis, tapi juga untuk hukum. Semua bisa kita lihat ketika menemukan adanya hukum negara yang juga diiringi oleh hukum agama serta adat. Lebih lanjut, Indonesia juga menganut budaya Timur yang katanya terkenal dengan kearifan dan kesopanannya. Oleh karena itu, ada yang namanya Feminisme Multikultural yang melihat perbedaan ketertindasan perempuan di masing-masing daerah.

“Kasus perempuan tersebut terbilang miris sih. Sebab yang dipersoalkan kemudian adalah tentang pornografi. Tentu ini sangat keliru. Kenapa? Karena suatu hal bisa disebut pornografi jika ada unsur komersil di dalamnya. Coba deh buka lagi UU tentang pornografi,”

Menurut mantan mahasiswa Gunadarma ini, dirinya kurang setuju jika perempuan naked itu dijerat UU pornografi karena tidak ada tujuan komersil sama sekali ketika perempuan tersebut memilih untuk topless ke luar rumah.

“Ya jelas gak bisa dijerat dengan hukum pornografi dong. Memangnya perempuan tersebut ada tujuan komersilnya? Kan engga,”

Namun, jika kembali melihat pluralisme hukum di Indonesia, ada hukum agama disana—selain dari hukum negara yang hampir setiap agama menganut nilai-nilai moralitas, salah satunya adalah mengatur bagaimana cara berpenampilan dengan baik di muka umum.

“Tapi apa yang disebut budaya timur atau moralitas timur juga sih masih paradoksial. Lihat aja misalnya kebudayaan yang ada di Bali, Tarian Jaipong, atau bahkan yang paling Timur adalah pakaian warga Papua. Semuanya nyaris topless dan sensual,”

ANAKGUNDAR.COM 2017

Warga Papua yang menggunakan Koteka. Dok: BMP – Fotografer

Lantas mantan mahasiswa Gunadarma yang bernama Andi Misbahul Pratiwi ini menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia kebanyakan masih belum bisa membedakan secara jelas apa itu pendidikan seksual, erotisme, dan pornografi. Makanya hal tersebutlah yang menyebabkan topless dikit dibilang porno.

“Kalau dalam lensa feminisme, soal pornografi juga masih debatable. Ini disebabkan karena korbannya adalah selalu tubuh perempuan. UU Pornografi Tahun 2008 sendiri memiliki sejarah yang panjang. Kala itu kalangan Feminisme menolak beberapa term yang dikategorikan sebagai pornografi. Misalnya, term gerak tubuh yang sensual. Jika gerak tubuh yang sensual tersebut dikategorikan sebagai pornografi, maka silakan hitung ada berapa banyak tarian daerah yang akan hilang. Dengan negosiasi dan kolaborasi para akademisi dan pemerintah, bisa dibilang akademisi feminis cukup berhasil. Oleh karena itu, definisi pornografi dalam UU sekarang lebih baik—setidaknya.”

Sekali lagi, dalam menetapkan sesuatu kita perlu lensa yang lebih luas. Andi telah menjabarkan kepada kita semua dari segi legal hukum dari fenomena perempuan naked tersebut apakah layak dijerat hukum pornografi atau tidak.

“Itu baru kajian dari legal case-nya. Untuk memvonis perempuan naked tersebut kita juga perlu mendengarkan alasan terdakwa dibalik kelakuannya tersebut. Ini lebih ke Psikoanalisis,”

Lain halnya dengan kajian legas case, dalam psikoanalisis kita tidak bisa menyimpulkan dari fenomenanya saja. Namun, kita harus lebih tahu secara mendalam apa alasan yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Jadi, seharusnya kita gak bisa cepat mendakwa orang begitu saja.

“Menurut gue, justru yang harus dijerat UU Pornografi adalah orang yang memproduksi dan menyebarkan video tersebut. Sebab, perempuan itu sama sekali gak lagi nge-vlog atau bikin story. Seperti yang dibilang Alice, orang-orang yang merekam kejadian tersebut sama halnya seperti menyiram bensin ke dalam api. Makanya dari kasus-kasus sebelumnya, mantan vokalis Peterpan itu gak layak dipenjara karena dia membuat video tersebut untuk koleksi pribadi. Sama halnya kayak lo yang menyimpan foto lagi berciuman sama pacar. Itu koleksi pribadi dan bukan buat umum, kan?” Tutup Andi.

Jadi, apakah netizen Gunadarma yang budiman ini sudah sedikit terjernihkan dari keruhnya berita-berita tentang perempuan naked yang beredar di Internet? Semoga saja sudah ya.~

“Hal yang paling berbahaya dari meningkatnya minat berkomentar adalah menurunnya minat membaca” Zen RS, Founder PanditFootball.com

About the author

mm

Felani Galih Prabawa

Travelouge

Leave a Comment

WordPress spam blocked by CleanTalk.