iLounge

Nawa Cita Yang Akhirnya Hanya Menjadi Alat Pesolek

Nawa Cita (sembilan cita-cita), nama ini terdengar begitu ‘wah’ tiga tahun lalu. Bukan tanpa alasan, Nawa Cita merupakan gagasan yang diusung Capres dan Cawapres Jokowi-JK (2014-2019) untuk menunjukkan jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Kemudian dikemas dengan baik penyampaiannya oleh juru kampanye mereka saat itu, Pak Anies Baswedan hingga membuat Nawa Cita ini terdengar sangat pribumi membumi dan bisa diterima dengan mudah oleh berbagai macam lapisan masyarakat, termasuk saya. Hhe~

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
  9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Ya, itulah isi Nawa Cita yang selama ini kita dengar. Namun sama seperti yang sudah-sudah, Nawa Cita atau pun cita-cita lain yang selalu kita dengarkan saat masa kampanye pada akhirnya hanya berfungsi sebagai alat pesolek untuk memperoleh suara dan simpati.

Jadi, apakah dalam 3 tahun Nawa Cita ini dapat dikatakan sukses? Saya rasa belum, sama seperti Nawa Cinta saya yang belum sepenuhnya tersampaikan setelah 3 tahun pacaran. Apalagi kalo kita lihat banyak banget penikung-penikung kepentingan korporasi-korporasi yang bisa jadi terikat kontrak politik dengan kabinet hari ini dan kedatangan proyeknya tak bisa diduga-duga. Namun, Nawa Cita juga bukan berarti mustahil dilaksanakan. Hanya saja perlu keberanian dan pemerintahan yang bebas dari berbagai macam kepentingan anggota dan investor partai politik eksternal untuk bisa merealisasikannya.

Saya yang kuliah aja belum selesai menilai, bahwa kekuatan Kabinet Jokowi-JK saat ini belum bisa melawan kekuatan Asing dan Aseng dengan Nawa Citanya. Kekecewaan saya pun mulai muncul ketika banyak realisasi dilapangan yang sangat kontradiktif dengan Nawa Cita yang diusung Jokowi-JK.

Kasus para Petani Kendeng, Selamatkan Slamet, Pembunuhan Munir, Impunitas 1965, Data Kesenjangan Ekonomi dari Oxfam, Kurikulum Pendidikan yang semakin tak tentu arah, Pembubaran Paksa Diskusi dan masih banyak lagi fenomena lain yang sangat kontradiktif dan itu cukup bagi saya untuk menyampaikan bahwa Nawa Cita belum berjalan optimal dalam 3 tahun terakhir ini. Lagipula, Pemerintah kita ini manusia jaman now, bukan manusia pada masa Bandung Bondowoso atau ketika Gadjah Mada menghabisi bala tentara Padjadjaran seorang diri. 100 hari, 1 tahun, 3 tahun, atau bahkan 3 tahun itu tidak bisa jadi ukuran.

Nawa Cita itu indah. Siapapun yang memakainya akan terlihat menawan. Dan bagi kita yang melihatnya akan sangat megah dan mewah hingga alam bawah sadar menentukan pilihan dibalik bilik suara dan lupa ada siapa aja yang siap memberi kejutan dibalik layar.

Nawa Cita itu harus jadi teori dan gerakan bersama dan tidak hanya berhenti di Jokowi-JK. Uwuwuwuwu~

About the author

mm

Felani Galih Prabawa

Travelouge

1 Comment

Leave a Comment

WordPress spam blocked by CleanTalk.