Ormawa Internal Kampus Mulai Berani Tunjukkan Jati Diri


Ormawa Internal Kampus Mulai Berani Tunjukkan Jati Diri

ANAKGUNDAR.com, Depok – Pasca diberlakukannya kebijakan NKK/BKK pada tahun 1978 silam, aktivisme mahasiswa di kampus mulai semakin meredup, tal terkecuali mahasiswa di Universitas Gunadarma. Selain pengaruh NKK/BKK yang ditetapkan melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Daoed Josoef, No. 0156/U/1978 serta SK No. 0230/U/J/1980, beberapa faktor internal lainnya pun turut menjadi hal yang menyebabkan mandulnya gerakan mahasiswa saat ini, terutama ketakukan mahasiswa hari ini dengan ancaman Drop Out jika dianggap “tidak tertib” dalam menjalankan masa perkuliahan.

AnakGundar.com 2016
Jakarta tahun 1974. Via: advokatku.blogspot.com

Dari sinilah kita bisa melihat bahwa rezim secara tidak langsung mengebiri kegiatan aktivitas politik mahasiswa. Di mana mereka hanya cukup memahami politik dalam artian teori bukan praktik. Pemerintah Orde Baru dan produk-produknya hari ini berhasil melakukan intervensi dalam kehidupan kampus, dengan dalih stabilitas politik dan pembangunan.

Sejarah Gerakan Mahasiswa Gunadarma

Pada tahun 1997, KM (Keluarga Mahasiswa) Gunadarma menjadi poros utama dalam melakukan kegiatan aktivisme tingkat kampus, daerah, maupun nasional. Organisasi eksternal kampus yang progresif ini pun tercatat pernah turun di tahun 1998 untuk meruntuhkan rezim Orde Baru. Selain itu, banyak kegiatan internal lainnya yang dilakukan oleh KM Gunadarma, seperti Leadership Training.

KM Gunadarma aktif dalam isu-isu sosial seperti yang menyangkut pada buruh, tani, miskin kota, dan rakyat-rakyat yang tertindas oleh kebijakan negara pada saat itu. Kajian-kajian tentang Marxis pun selalu menjadi topik utama, karena semangat mereka bermuara dari pemikiran Karl Marx tersebut.

Selepas masa Orde Baru dan beralih ke Reformasi, KM Gunadarma ini terus melakukan pergerakan-pergerakan dengan tujuan memberikan keadilan yang seadil-adilnya bagi rakyat Indonesia. Ketika hendak mencapai umur yang ke-8. KM Gunadarma ini mendapat goncangan dari pihak kampus.

AnakGundar.com 2016 "Berani Berkarya"
Plang buatan KM Gunadarma.

Ketika itu, posko mereka diluluh lantahkan oleh aparat keamanan kampus. Bahkan pihak kampus pun mengancam DO bagi mahasiswa-mahasiswa yang mau membela keberadaan KM Gunadarma ini. Awalnya sempat ada perlawanan dari pihak KM Gunadarma untuk melindungi karya-karya mereka, tapi pada tahun 2005, KM Gunadarma benar-benar dimatikan oleh pihak kampus.

Kemudian, pasca aksi pembubaran oleh pihak kampus, para aktivis KM Gunadarma saling berpencar. Sebagian dari mereka ada yang masuk Forkot (Forum Kota), dan masih ada pula yang melakukan gerakan-gerakan bawah tanah dengan masih menggunakan sisa-sisa nama KM Gunadarma.

Fase Malu Bergerak Tapi Hati Berontak

Bermula pada kejadian pembubaran KM Gunadarma, tahun-tahun berikutnya mahasiswa di kampus ini semakin malu untuk bergerak meski saya sendiri yakin ada banyak unek-unek yang melintas di pikiran mereka tentang ketidak sesuaian atas yang mereka berikan dan mereka dapatkan.

Munculnya organisasi-organisasi eksternal lain pasca keruntuhan KM Gunadarma pun nyatanya belum mampu untuk bersuara sangat vokal dalam menyampaikan aspirasi mereka terhadap pemerintahan Margianti di Universitas Gunadarma. Kemandulan gerakan mahasiswa Gunadarma hari ini pun masih disebabkan oleh baying-bayang Drop Out bagi mereka yang tidak tertib dengan aturan kampus.

AnakGundar.com 2016
Ormawa internal masih cenderung main aman dengan proker-prokernya. Via: YouTube

Dalam rentan waktu 2005 hingga pertengahan 2014, organisasi kemahasiswaan yang ada di Gunadarma baik internal maupun eksternal sangat segan untuk bersuara dan meminta keadilan di kampus. Organisasi ekternal semakin disibukkan dengan kaderisasi untuk tetap menjaga eksistensi, sedangkan organisasi internal semakin menunduk agar program kerja mereka yang berupa seminar, seni musik, dan olahraga itu pun tetap disokong oleh pihak dekanat Universitas Gunadarma.

Perlahan Mulai Sadar dan Berani

Setelah kurang lebih 10 tahun KM Gunadarma ini dihilangkan oleh kampus, organisasi skala internal yang berupa BEM Fakultas dan organisasi eksternal kampus perlahan mulai berani untuk bersuara lantang dalam menyalurkan aspirasi kepada pemilik Gunadarma. Bahkan mereka pun tak canggung untuk membuat sebuah kolaborasi bersama yang khusus mengurusi hak-hak normatif mereka yang belum dipenuhi oleh kampus.

Awalnya sangat terlihat aneh bagi beberapa mahasiswa Gunadarma saat Badan Eksekutif tingkat fakultas mereka melakukan aksi di dalam kampus, padahal aksi tersebut hanya pengumpulan ratusan tanda tangan sebagai bentuk rasa simpati, dukungan, atau bahkan penolakan terhadap sebuah isu yang berkembang baik ditingkat daerah maupun nasional.

Mahasiswa pada saat itu masih berpikir sesuai arus yang sudah sangat melekat di Gunadarma selama 10 tahun lamanya. Bahkan saking sudah melekatnya, banyak dari mahasiswa Gunadarma yang menganggap “gitu-gituan” tersebut tidak ada artinya, dan BEM mending mengurusi kegiatan yang sudah ditetapkan ketika Rapat Kerja.

AnakGundar.com 2016 "Berani Berkarya"
Aksi simpatik untuk menolak UU Pilkada tahun 2014 silam.

Namun, cemoohan kala itu tidak menjadi penghambat gerakan organisasi internal di kampus. Seiring berjalannya waktu, Ormawa internal kampus mulai berbenah diri. Struktur organisasi dirombak dan program kerja pun dievaluasi dan diseimbangkan sesuai kebutuhan zaman. Program-program yang melibatkan aspek minat dan bakat mahasiswa tetap diadakan, kemudian program-program progresif untuk memerjuangkan hak mahasiswa atas kampusnya pun turut dilaksanakan.

Beragam aksi-aksi simpatik, lorong-lorong diskusi, dan aliansi-aliansi pun semakin kesini semakin berani untuk mempertontonkan diri. Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas pun tak mau kehilangan fungsi mereka sebagai motor utama dalam menghimpun gerakan di kampus.

Sebagai contoh, pada tanggal 28 Oktober kemarin, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (BEM FTI) Gunadarma secara gambalng menggelar sebuah kegiatan sebagai bentuk perayaan hari Sumpah Pemuda. Acara tersebut terbagi ke dalam beberapa rangkaian, ada aksi penghimpunan tanda tangan, perpus keliling, pembacaan sajak-sajak, dan yang terakhir adalah redeklarasi sumpah pemuda.

Mulai beraninya organisasi internal untuk—setidaknya melakukan aksi yang sederhana merupakan sebuah kemajuan bagi dunia gerakan mahasiswa Gunadarma. Karena sejauh ini, dalam kurun waktu 10 setelah keruntuhan KM Gunadarma, hanya organisasi eksternal yang mampu bersuara secara lantang untuk menyatakan sikap atas apa yang terjadi di kampus atau pun isu-isu nasional lainnya.

AnakGundar.com 2016 "Berani Berkarya"
Aksi BEM FTI Gunadarma untuk merayakan Sumpah Pemuda

Sudah seharusnya organisasi-organisasi internal yang dibentuk oleh kampus ini menjadi motor gerakan dalam menyikapi isu-isu nasional bahkan yang lebih penting adalah mengakomodir kebutuhan-kebutuhan mahasiswanya yang sudah menjadi hak mereka. BEM tingkat fakultas sudah waktunya untuk mengangkat kepala dan melihat sekeliling bahwa sibuk mengurusi program kerja itu tidak seberapa dibanding menolong mahasiswa yang tercekik biaya kampus atau mahasiswa yang proses belajarnya terhambat oleh minimnya fasilitas.

Semoga umur gerakan di Universitas Gunadarma panjang umur dan semakin beranak-pinak. Proses pembelajaran seperti ini harus ditularkan kepada mahasiswa-mahasiswa lainnya, apalagi mahasiswa baru yang minim sekali pengetahuan tentang kemahasiswaan. Jangan sampai mereka yang baru lahir di Gunadarma ini menjadi mahasiswa yang takut untuk bersuara.

Previous Pelaksanaan Tata Krama & Tata Tertib Mahasiswa di Gunadarma Sedikit Mengecewakan
Next Gaya Kuliah Mahasiswa Tahun 80-an

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *